Kamis, 26 April 2018

Cerita Sex Pembantu Berpengalaman


CERITA DEWASA - ntik-rintik hujan mulai turun semakin lebat. Mbak Padmi yang bekerja di rumah abangku ini bergegas ke halaman belakang untuk mengambil jemuran.

Kemudian, “Den Mad!”, teriaknya keras dari belakang rumah.

Aku berlari menuju arah suaranya dan melihat Mbak Padmi terduduk di tepi jemuran. Kain jemuran berhamburan di sekitarnya.

“Den Mad, tolong Mbak Padmi bawakan kain ini masuk”, pintanya sambil menyeringai mungkin menahan sakit.

“Mbak tadi tergelincir”, sambungnya. Aku hanya mengangguk AGEN DOMINO sambil mengambil kain yang berserakan lalu sebelah tanganku coba membantu Mbak Padmi berdiri.

“Sebentar Mbak. Saya bawa masuk dulu kain ini”, kataku sembari membantunya memegang kain yang berada di tangan Mbak Padmi.

Aku bergegas masuk ke dalam rumah. Kain jemuran kuletakkan di atas kasur, di kamar Mbak Padmi. Ketika aku menghampiri Mbak Padmi lagi, dia sudah separuh berdiri dan mencoba berjalan terhuyung-huyung.

Hujan semakin lebat seakan dicurahkan semuanya dari langit. Aku menuntun Mbak Padmi masuk ke kamarnya dan mendudukkan di kursi. Dadaku berdetak kencang ketika tanganku tersentuh buah dada Mbak Padmi.

Terasa kenyal sehingga membuat darah mudaku tersirap naik. Kuakui walau dalam umur awal 30-an ini Mbak Padmi tidak kalah menariknya jika dibandingkan dengan kakak iparku yang berusia 25 tahun. Kulitnya kuning langsat dengan potongan badannya yang masih menarik perhatian lelaki.

 Tidak heran, pernah Mbak Padmi kepergok oleh abangku bermesraan dengan laki-laki lain.

“Tolong ambilkan Mbak handuk”, pinta Mbak Padmi ketika aku masih termangu-mangu. Aku menuju ke lemari pakaian lalu mengeluarkan handuk dan kuberikan kepadanya.

“Terima kasih Den Mad”, katanya dan aku cuma mengangguk-angguk saja. Kasihan Mbak Padmi, dia adalah wanita yang paling lemah lembut. Suaranya halus dan lembut. Bibirnya senantiasa terukir senyum, walaupun dia tidak tersenyum.

Rajin dan tidak pernah sombong atau membantah. Dianggapnya rumah abangku seperti rumah keluarganya sendiri. Tak pernah ada yang menyuruhnya karena dia tahu tanggung jawabnya. Kadang-kadang saya memberinya sedikit uang, bila saya datang ke sana.

Bukan karena apa, sebab dia mempunyai sifat yang bisa membuat orang sayang kepadanya. Abangku tidak pernah memarahinya. Gajinya setiap bulan disimpan di bank. Pakaiannya dibelikan oleh kakak iparku hampir setiap bulan.

Memang dia cantik, dan tak tahu apa sebabnya hingga suaminya AGEN DOMINO menceraikannya. Kabarnya dia benci karena suaminya main serong.

Hampir 6 tahun lebih dia menjanda setelah menikah hanya 3 bulan. Sekarang dia baru berusia 33 tahun, masih muda. Kalau masalah kecantikan, memang kulitnya putih. Dia keturunan Cina. Rambutnya mengurai lurus hingga ke pinggang.

Dibandingkan dengan kakak iparku, masing-masing ada kelebihannya. Kelebihan Mbak Padmi ialah sikapnya kepada semua orang, budi bahasanya halus dan sopan.

Mbak Padmi berdiri lalu mencoba berjalan menuju ke kamar mandi. Melihat keadaannya masih terhuyung-huyung, dengan cepat kupegang tangannya untuk membantu. Sebelah tanganku memegang pinggang Mbak Padmi.

Kutuntun menuju ke pintu kamar mandi. Terasa sayang untuk kulepaskan peganganku, sebelah lagi tanganku melekat di pinggangnya. Mbak Padmi menghadap ke diriku saat kutatap wajahnya. Mata kami saling bertatapan.

Kulihat Mbak Padmi sepertinya senang dan menyukai apa yang kulakukan. Tanganku jadi lebih berani mengusap-usap lengannya lalu ke dadanya. Kuusap dadanya yang kenyal menegang dengan puting yang mulai mengeras.

Kudekatkan mulutku untuk mencium pipinya. Dia berpaling menyamping, lalu kutarik lagi pipinya. Mulut kamipun bertemu. Aku mencium bibirnya. Inilah pertama kalinya aku melakukannya kepada seorang wanita.

Erangan halus keluar dari mulut Mbak Padmi. Ketika kedua tanganku meremas punggungnya dan lidahku mulai menjalari leher Mbak Padmi. Ini semua akibat film BF dari CD-Rom yang sering kutonton dari rumah teman.

Mbak Padmi bersandar ke dinding, tetapi tidak meronta. Sementara tanganku menyusup masuk ke dalam bajunya, mulut dan lidahnya kukecup. Kuhisap dan kugelitik langit-langit mulutnya. Kancing BH-nya kulepaskan.

Tanganku bergerak bebas mengusap buah dadanya. Putingnya kupegang dengan lembut. Kami sama-sama hanyut dibuai kenikmatan walaupun kami AGEN DOMINO masih berdiri bersandar di dinding. Kami terangsang tak karuan. Nafas kami semakin memburu.

Aku merasa tubuh Mbak Padmi menyandar ke dadaku. Dia sepertinya pasrah. Baju daster Mbak Padmi kubuka. Di dalam cahaya remang dan hujan lebat itu, kutatap wajahnya. Matanya terpejam.

Daging kenyal yang selama ini terbungkus rapi menghiasi dadanya kuremas perlahan-lahan.
Bibirku mengecup puting buah dadanya secara perlahan. Kuhisap puting yang mengeras itu hingga memerah. Mbak Padmi semakin gelisah dan nafasnya sudah tidak teratur lagi.

Tangannya liar menarik-narik rambutku, sedangkan aku tenggelam di celah buah dadanya yang membusung.

Mulutnya mendesah-desah, “Ssshh…, sshh!”. Puting payudaranya yang merekah itu kujilat berulangkali sambil kugigit perlahan-lahan. Kulepaskan ikatan kain di pinggangnya.

Lidahku kini bermain di pusar Mbak Padmi, sambil tanganku mulai mengusap-usap pahanya.
Ketika kulepaskan ikatan kainnya, tangan Mbak Padmi semakin kuat menarik rambutku.

“Den Maddd…, Den Mad”, suara Mbak Padmi memanggilku perlahan. Aku terus melakukan usapanku. Nafasnya terengah-engah ketika celana dalamnya kutarik ke bawah.

Tanganku mulai menyentuh daerah kemaluannya. Rambut halus di sekitar kemaluannya kuusap-usap perlahan. Ketika lidahku baru menyentuh kemaluannya, Mbak Padmi menarikku berdiri. Pandangan matanya terlihat sayu bagai menyatakan sesuatu.

Pandangannya ditujukan ke tempat tidurnya. Aku segera mengerti maksud Mbak Padmi seraya menuntun Mbak Padmi menuju tempat tidur. Bau kemaluannya merangsang sekali. Dengan satu bau khas yang sukar diceritakan.

“Den Maddd…”, bisiknya perlahan di telingaku. Aku terdiam sambil mengikuti apa yang kuinginkan.

Mbak Padmi sepertinya membiarkan saja. Kami benar-benar tenggelam. Mbak Padmi kini kutelanjangkan.

Tubuhnya berbaring telentang sambil kakinya menyentuh lantai. Seluruh tubuhnya cukup menggiurkan. Mukanya berpaling ke sebelah kiri. Matanya terpejam. Tangannya mendekap kain sprei. Buah dadanya membusung seperti minta disentuh.

Puting susunya terlihat berair karena liur hisapanku tadi. Perutnya mulus dan pusarnya cukup indah. Kulihat tidak ada lipatan dan lemak seperti perut wanita yang telah melahirkan. Memang Mbak Padmi tidak memiliki anak karena dia bercerai setelah menikah 3 bulan.

Kakinya merapat. Karena itu aku tidak dapat melihat seluruh kemaluannya. Cuma sekumpulan rambut yang lebat halus menghiasi bagian bawah. Kemudian, tanganku terus membuka kancing bajuku satu-persatu. ritsluiting jeans-ku kuturunkan.

Aku telanjang bulat di hadapan Mbak Padmi. Penisku berdiri tegang melihat kecantikan sosok tubuh Mbak Padmi. Buah dada yang membusung dihiasi puting kecil dan daerah di bulatan putingnya kemerah-merahan. Indah sekali kupandang di celah pahanya.

Mbak Padmi telentang kaku. Tidak bergerak. Cuma nafasnya saja turun naik. Lalu akupun duduk di pinggir kasur sambil mendekap tubuh Mbak Padmi.

Sungguh lembut tubuh mungil Mbak Padmi. Kupeluk dengan gemas sambil kulumat mesra bibir ranumnya. Tanganku meraba seluruh tubuhnya. Sambil memegang puting susunya, kuremas-remas buah dada yang kenyal itu. Kuusap-usap dan kuremas-remas.

Nafsuku terangsang semakin hebat. Penisku menyentuh pinggang Mbak Padmi. Kudekatkan penisku ke tangan Mbak Padmi. Digenggamnya penisku erat-erat lalu diusap-usapnya. Memang Mbak Padmi tahu apa yang harus dilakukan.

Maklumlah dia pernah menikah. Dibandingkan denganku, aku cuma tahu teori dengan melihat film BF, itu saja. Tanganku terus mengusap perutnya hingga ke celah selangkangannya. Terasa berlendir basah di kemaluannya. Aku beralih dengan posisi 69.

Rupanya Mbak Padmi mengerti keinginanku. Lalu dipegangnya penisku yang sudah tegang dan dimasukkannya ke dalam mulutnya. Mataku terpejam-pejam ketika lidah Mbak Padmi melumat kepala penisku dengan lembut.

Penisku dikulum sampai ke pangkalnya. Sukar untuk dibayangkan betapa nikmatnya diriku. Bibir Mbak Padmi terasa menarik-narik batang penisku. Tidak tahan diperlakukan begitu aku lalu mengerang menahan nikmat.

Kubuka lebar-lebar paha Mbak Padmi sambil mencari liang vaginanya. Kusibakkan vaginanya yang telah basah itu. Kujulurkan lidahku sambil memegang clitorisnya. Mbak Padmi mendesah. Kujilat-jilat dengan lidahku.

Kulumat dengan mulutku. Liang kemaluan Mbak Padmi semakin memerah. Bau kemaluannya semakin kuat. Aku jadi semakin terangsang. Seketika kulihat air berwarna putih keluar dari lubang vaginanya.

Tentu Mbak Padmi sudah cukup terangsang, pikirku. Aku kembali pada posisi semula.
Tubuh kami berhadapan. Tangannya menarik tubuhku untuk rebah bersama. Buah dadanya tertindih oleh dadaku. Mbak Padmi memperbaiki posisinya ketika tanganku mencoba mengusap-usap pangkal pahanya.

Kedua Kaki Mbak Padmi mulai membuka sedikit AGEN DOMINO ketika jariku menyentuh kemaluannya. Lidahku mulai turun ke dadanya. Putingnya kuhisap sedikit kasar. Punggung Mbak Padmi terangkat-angkat ketika lidahku mengitari perutnya.

Akhirnya jilatanku sampai ke celah pahanya. Mbak Padmi semakin membuka pahanya ketika aku menjilat clitorisnya, kulihat Mbak Padmi sudah tidak bergerak lagi. Kakinya kadang-kadang menjepit kepalaku sedangkan lidahku sibuk mencari tempat-tempat yang bisa mendatangkan kenikmatan baginya

Erangan Mbak Padmi semakin kuat dan nafasnya pun yang terus mendesah. Rambutku di tarik-tariknya dengan mata terpejam menahan kenikmatan. Aku bertanya, “Gimana Mbak rasanya?”, suaraku lembut dan sedikit manja. Dia tidak menjawab. Dia hanya membuka matanya sedikit sambil menarik napas panjang.

Aku mengerti. Itu bertanda dia setuju. Tanpa disuruh, aku mengarahkan penisku ke arah lubang vaginanya yang kini telah terbuka lebar. Lendir dan liurku telah banjir di gerbang vaginanya. Kugesek-gesekan kepala penisku di cairan yang membanjir itu.

Perlahan-lahan kutekan ke dalam. Tekanan penisku memang agak sedikit susah. Terasa sempit. Kulihat Mbak Padmi menggelinjang seperti kesakitan. “Pelan-pelan Den Madd!”, Mbak Padmi berbicara dengan nafas sesak.

Aku sekarang mengerti. Kemaluan Mbak Padmi sudah sempit lagi setelah 6 tahun tidak disetubuhi, walaupun dia sudah tidak perawan lagi. Memang aku belum berpengalaman kerena ini merupakan pertama kalinya aku menyetubuhi seorang wanita walau umurku sudah matang

Kutekan lagi. Kumasukkan penisku perlahan-lahan. Kutekan punggungku ke depan. sangat hati-hati. Terasa memang sempit. Lalu Mbak Padmi memegang lenganku erat-erat. Mulutnya meringis seperti orang sedang menggigit tulang.

Hanya sebagian penisku yang masuk. Kubiarkan sebentar penisku berhenti, terdiam. Mbak Padmi juga terdiam. Tenang. Sementara itu, kupeluk tubuh Mbak Padmi dengan gemas sambil memainkan buah dadanya, menjilat, mengusap dan menggigit-gigit lembut.

Mulutnya kukecup sambil lidahnya kumainkan. Kami memang sudah sangat bernafsu dan terangsang. Lalu kemudian aku bertanya dengan suara lembut, “Mau diteruskan…?”. Mbak Padmi membuka matanya.

Di bibirnya terlihat senyum manis yang menggairahkan. Kutekan penisku ke dalam. Kemudian kutarik ke belakang perlahan-lahan. Kuhentakkan perlahan-lahan. Memang sempit kemaluan Mbak Padmi, mencengkram seluruh batang penisku.

Penisku terasa seperti tersedot di dalam vagina Mbak Padmi. Kami makin terangsang! Penisku mulai memasuki kemaluan Mbak Padmi lebih lancar. Terasa hangatnya sungguh menggairahkan.

Mata Mbak Padmi terbuka menatapku dengan pandangan yang sayu ketika penisku mulai kukeluar-masukkan. Bibirnya dicibirkan rapat-rapat seperti tidak sabar menunggu tindakanku selanjutnya.
Sedikit demi sedikit penisku masuk sampai ke pangkalnya.

Mbak Padmi mendesah dan mengerang seiring dengan keluar-masuknya penisku di kemaluannya. Kadang-kadang punggung Mbak Padmi terangkat-angkat menyambut penisku yang sudah melekat di kemaluannya.

Berpuluh-puluh kali kumaju-mundurkan penisku seiring dengan nafas kami yang tidak teratur lagi. Suatu ketika aku merasakan badan Mbak Padmi mengejang dengan mata yang tertutup rapat. Tangannya memeluk erat-erat pinggangku.

Punggungnya terangkat tinggi dan satu keluhan berat keluar dari mulutnya secara pelan. Denyutan di kemaluannya terasa kuat seakan melumatkan penisku yang tertanam di dalamnya. Goyanganku semakin kuat.

Kasur Mbak Padmi bergoyang mengeluarkan AGEN DOMINO bunyi berdecit-decit. Leher Mbak Padmi kurengkuh erat sambil badanku rapat menindih badannya. Ketika itu seolah-olah aku merasakan ada denyutan yang menandakan air maniku akan keluar.

Denyutan yang semakin keras membuat penisku semakin menegang keras. Mbak Padmi mengimbanginya dengan menggoyangkan pinggulnya. Goyanganku semakin kencang. Kemaluan Mbak Padmi semakin keras menjepit penisku.

Kurangkul tubuhnya kuat-kuat. Dia diam saja. Bersandar pada tubuhku, Mbak Padmi lunglai seperti tidak bertenaga. Kugoyang terus hingga tubuh Mbak Padmi seperti terguncang-guncang. Dia membiarkan saja perlakuanku itu.

Nafasnya semakin kencang. Dalam keadaan sangat menggairahkan, akhirnya aku sampai ke puncak. Air maniku muncrat ke dalam kemaluan Mbak Padmi. Bergetar badanku saat maniku muncrat. Mbak Padmi mengait pahaku dengan kakinya.

Matanya terbuka lebar memandangku. Mukanya serius. Bibir dan giginya dicibirkan. Nafasnya terengah-engah. Dia mengerang agak kuat. Waktu aku memuntahkan lahar maniku, tusukanku dengan kuat menghunjam masuk ke dalam.

Kulihat Mbak Padmi menggelepar-gelepar. Dadanya terangkat dan kepalanya mendongak ke belakang. Aku lupa segala-galanya. Untuk beberapa saat kami merasakan kenikmatan itu. Beberapa tusukan tadi memang membuat kami sampai ke puncak bersama-sama.

Memang hebat. Sungguh puas. Memang inilah pertama kalinya aku melakukan senggama. Mbak Padmi lah wanita pertama yang mendapatkan air perjakaku. Walaupun dia seorang janda, bagiku dia adalah wanita yang sangat cantik.

Waktu kami melakukan senggama tadi, kami berkhayal entah kemana. Mbak Padmi memang hebat dalam permainannya. Sebagai seorang yang tidak pernah merasakan kenikmatan persetubuhan, bagiku Mbak Padmi betul-betul memberiku surga dunia.

Aku terbaring lemas di sisi Mbak Padmi. Mataku terpejam rapat seolah tidak ada tenaga untuk membukanya. Dalam hati aku puas karena dapat mengimbangi permainan ranjang Mbak Padmi. Kulihat Mbak Padmi tertidur di sebelahku.

Kejadian yang tidak pernah kuimpikan, terjadi tanpa dapat dielakkan. Mbak Padmi juga telentang dengan mata tertutup seperti kelelahan, mungkin lelah setelah dapat menghilangkan keinginan batinnya sejak menjanda 6 tahun yang lalu. Kami masih berpelukan.

Kemudian Mbak Padmi terasa seperti mengusap mukaku. Kubuka mataku. Dia tersenyum. Aku tersenyum. Seolah-olah kami tidak merasa aneh berpelukan tanpa sehelai benang pun di tubuh kami.

Dia mencium bibirku.

Dia berbisik ketelingaku,

“Terima kasih ya Den Mad. Mbak…” Belum sempat dia menghabiskan kata-katanya, aku bertanya,

“Mbak puas…?”. Dia tersenyum dan mengangguk.

“Dua kali!”, jawabnya ringkas.

“Den Mad kamu memang hebat, penismu juga besar! Panjang!”, katanya.

Sementara itu ia mengocokkan batang penisku. Suaranya membangkitkan gairahku. “Mbak suka?”, tanyaku. Dia tersenyum. Dia mengangguk tanda suka. Saat itu juga tanganku memegang buah dadanya. Tangannya mengocok terus penisku.

Penisku tegang lagi. Kami jadi terangsang lagi. “Mbak mau lagi?”, tanyaku dengan suara manja.
Dia tersenyum manis. Apa yang kuimpikan kini benar-benar menjadi kenyataan. Perlahan-lahan kubuka selimutnya. Kulihat kaki Mbak Padmi sudah mengejang. Sedikit demi sedikit terus kutarik selimutnya ke bawah.

Segunduk daging mulai terlihat. Ufff…, detak jantungku kembali berdegup kencang. Kunikmati kembali tubuh Mbak Padmi tanpa perlawanan. Gundukan bukit kecil yang bersih, dengan bulu-bulu tipis yang mulai tumbuh di sekelilingnya, tampak berkilat di depanku.

Kurentangkan kedua kakinya hingga terlihat sebuah celah kecil di balik gundukan bukit Mbak Padmi. Kedua belahan bibir mungil kemaluannya kubuka. Melalui celah itu kulihat semua rahasia di dalamnya. Aku menelan air liurku sendiri sambil melihat kenikmatan yang telah menanti.

Kudekatkan kepalaku untuk meneliti pemandangan yang lebih jelas. Memang indah membangkitkan birahi. Tak mampu aku menahan ledakan birahi yang menghambat nafasku. Segera kudekatkan mulutku sambil mengecup bibir kemaluan Mbak Padmi dengan bibir dan lidahku.

Rakus sekali lidahku menjilati setiap bagian kemaluan Mbak Padmi. Terasa seperti tak ingin aku menyia-nyiakan kesempatan yang dihidangkannya. Setiap kali lidahku menekan keras ke bagian daging kecil yang menonjol di mulut vaginanya, Mbak Padmi mendesis dan mendesah keenakan. Lidah dan bibirku menjilat dan mengecup perlahan.

Beberapa kali kulihat Mbak Padmi mengejangkan kakinya. Aku sangat menikmati bau khas dari liang kemaluan Mbak Padmi yang memenuhi relung hidungku. Membuat lidahku bergerak semakin menggila. Kutekan lidahku ke lubang kemaluan Mbak Padmi yang kini sedikit terbuka.

0 komentar:

Posting Komentar

Agen Domino
Agen Domino
Agen Domino